Kamis, 14 Agustus 2008

(sharing) Ibu Meliana

 

Dear Ibu Melina,
 
Salam kenal dari saya.
Membaca email anda, membuat teringat kondisi saya sekitar 7 tahun yang lalu.  Tahun ke 3 saya kehilangan orang yang saya cintai. Hampir setiap hari selalu inginnya marah, terutama di rumah. Sampai2, melihat pagar nya saja, saya sudah ingin ngomel2. Ada aja "ketidakberesan" yang terjadi di dalam rumah, Pun sama dengan di luar rumah, saya menjadi pribadi yang tidak ramah and jutek. Sampai kemudian saya ngobrol dengan beberapa best friends, dengan keahlian mereka masing-masing, mereka mengatakan bahwa :
 
1. "settle my unsettled business".  Sewaktu saya kehilangan suami saya, saya tidak berduka, saya tidak mengeluarkan airmata, tetep percaya diri, karena kepengen disebut superwoman (seorang Camelia gitu loh! mosok mati seh cuma ditinggal suami!). 
 
But it was not good at all, karena luka batin saya harus disalurkan, emosi jiwa saya harus di ekspresikan, itu menjadi hutang yang harus dilunaskan.  Jadi saya mulai disuruh "berduka".  Harus mengakui kepada diri sendiri bahwa saya sungguh sangat lara, bahwa saya kehilangan belahan jiwa saya, bahwa saya sungguh merasa terhina, bahwa saya sungguh dipermalukan, bahwa saya ingin berteriak sampai terdengar di langit ke tujuh, bahwa saya sangat ketakutan menghadapi hari esok, bahwa saya ragu apakah saya bisa membesarkan putri saya sendirian, and so on.  Saya pun harus tampil terbuka di muka umum sebagai perempuan yang tidak lagi punya suami, tidak lagi punya soulmate, tidak lagi punya partner untuk sama-sama membesarkan putri kami, tidak ada lagi yang ngebantuin betulin genteng bocor, tidak ada lagi yang nemenin ke undangan2 pesta.  Saya tidak boleh lagi menutup-nutupi kenyataan yang ada and pretending that everything allright, istilah psikologinya "manipulated behaviour".  Saya pun mulai menangis, di malam-malam penuh air mata itu, saya ditemani Kekasih saya Yang Esa. 
 
2. Pertanyaan mengapa ya saya jadi mudah marah ? Jawabannya dikarenakan saya kehabisan energi.  Kehabisan energi karena saya ini "exhausted" lahir batin.  Letih karena terlalu banyak peran yang harus saya jalani. Dan peran-peran tadi saya jalani sebagai setumpuk "beban" yang harus diselesaikan secepat mungkin.
 
3. saya disuruh menjalani peran-peran saya tadi sebagai suatu kegiatan refreshing bukan beban.  Misalnya gini : Menjadi pegawai bukan lagi jadi beban, karena kalo ga kerja, kan ga punya uang untuk menghidupi diri sendiri dan sang putri.  Jadi dinikmati aja, walaupun Bos nyebelin.  Maka saya rubah kantor adalah "tempat rekreasi".  Menjadi janda bukan lagi beban, jadi saya mulai membangun lagi hubungan yang putus dengan teman-teman yang dulu saya hindari karena malu menjadi janda.   Tugas sebagai Ibu tidak lagi merupakan beban, karena memang sudah fitrahnya kebanyakan perempuan.  Dan menghadapi anak yang bertumbuh kembang memang merupakan dinamikanya jadi orang tua.  Kalau mereka bayi terus, kan berabe!.  Menjadi kakak perempuan dari 3 adik laki-laki bukan beban, karena ga bisa menolak suratan, wong orang tua kami udah almarhum, kalo ga mau, lalu siapa donk yang jadi pengayom adik-adik saya ?, dan masih banyak lagi.   Itu yang kemudian membuat saya lebih rileks, otomatis, "string" itu perlahan berkurang/ menghilang.  Sehingga saya mempunyai "space" lebih untuk menerima "ketidakberesan" yang lainnya.
 
4. saya disuruh melakukan kegiatan yang saya suka.  Lalu saya mulai lagi berolah raga.  Dan sebagaimana kita tahu bersama, olah raga selalu membuat kita bugar.  Pasti setelah olah raga tidur lebih nyenyak, dan bangun lebih segar.  Itu membuat hari-hari saya selalu semarak, walaupun tidak menghilangkan segala problema, at least, physically saya sehat.  Kemudian saya mulai memperhatikan penampilan saya, yang amburadul.  Saya lihat body saya yang "mengerikan", rambut saya yang acak-acakan, kuku saya yang tidak terawat.  Saya pun mulai merawat diri untuk kepentingan diri saya sendiri and I feel great.
 
5.  saya mulai memperbaiki aktivitas religi dan tingkat spiritual saya.  Niatannya saya perbaiki.  Keikhlasan saya tingkatkan.  Kata "menerima" bukan hanya basa-basi.  Sejalan dengan itu semua, saya mengalami metamorphosa from a looser to be a "good manner" woman.  Tidak saja sebagai individu, juga sebagai Ibu, juga sebagai anggota keluarga.
 
Bu,
Hal-hal di atas tadi bukan untuk anda tiru mentah2.  Karena akar problematika kita berbeda.  Dan tips setiap orang belum tentu applicable (dapat dipraktekkan) kepada orang lain.  Saya menuliskannya hanya untuk menjadi wacana saja.
 
Maafkan kalau ada kata-kata yang tidak berkenan.
Terimakasih untuk perhatiannya.
Salam manis,
Baby Camelia 
__._,_.___

Tidak ada komentar:

Facebook