Senin, 28 Januari 2008

Diskusi : Jalan yang singleparent tempuh

Ada hal yang menarik dan saya setujui dalam hal ini.

Rekan-rekan...
Mohon di koreksi yaa... Kl kata2 kutipanku salah.
Udah malem soalnya kemarin...

Rekan kita memberikan pendapat bahwa jalan yang kita tempuh sebagai
singleparent adalah salah. Kita tidak seharusnya malah
mempromosikan/mengagungkan bahwa being a single parent is the right way.
Kita seharusnya sadar, bahwa menjadi singleparent itu bukan jalan yang
benar, tapi ini adalah satu-satunya pilihan yang ada dan terbaik saat
ini untuk dijalani. Cmiiw..

Begitu saya menangkapnya. Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa saya
melihatnya sebagai kebenaran ?? Sebelumnya saya tidak pernah terpikir
ttg hal ini, mengingat saya jg tidak mengalaminya. Tp mengapa ada
kebenaran didalamnya...??

Ini disebabkan karena, being a singleparent, means that our child will
live with only one of its parent. Dengan salah satu orangtuanya saja.
Padahal, fitrahnya adalah mereka lahir, dibesarkan dan dididik dengan
nilai-nilai yang diajarkan oleh kedua orangtuanya. Sebisa mungkin, untuk
mencapai kesempurnaan hidup, kita harus menjalani fitrah kita sebagai
manusia. Fitrah saya sebagai cowo, akan menjalani hidup sebagai ayah,
dan berikutnya sebagai kakek dari anak cucu kita. Begitu juga kalian
yang perempuan, sudah fitrahnya menjadi hidup sebagai ibu sepenuhnya,
luar dan dalam.

Bila kita mencoba menganggap, bahwa being a singleparent is the right
way, maka cepat atau lambat, kita akan merasa sudah perfect sebagai
orangtua. Disinilah awal masalahnya. Ketika kita mulai menutup mata akan
kebutuhan2 si anak, disitu pula lah, kita mulai mengingkari kebutuhan
akan ayah dan ibu bagi pendidikan anak-anak kita. Dengan memaksakan diri
dan menutup mata akan kebutuhan inilah, yang akan menjadi petaka bagi
sianak. Mereka akan mencoba mencari kebutuhan ini sendiri, tanpa bisa
untuk komplain ataupun meminta kepada orangtua tuanggal mereka, karena
orangtua mereka ini mengingkari kebutuhan2 tersebut. kalian semua pasti
tahu apa akibatnya, bila nilai-nilai kehidupan tidak didapatkan oleh
anak-anak kalian.

Lalu bagaimana ?
Dengan menyadari fitrah kita seutuhnya dan kondisi secara riil, kita
seharusnya menjadi arif dan bijaksana dalam menyikapi kebutuhan anak.
Memang, mencari pasangan hidup lagi bukan jaminan bahwa ini adalah
solusi yang lebih baik. Tapi menyadari apa kekurangan kita membuat kita
semakin waspada dan mencegah hal-hal buruk terjadi terhadap keluarga
kita. Cari tahu kebutuhan mereka dan minta bantuan kepada keluarga
terdekat untuk membantu kita, adalah salah satu jalan yang terbaik.
Feeling saya bilang, bahwa memasukkan orang terdekat kita kedalam
keluarga inti kita, juga saya tidak rekomendasikan, mengingat
bagaimanapun mereka orang luar yang berbeda latar belakang dan motivasi.
Tetap usahakan keluarga terdekat untuk membantu anda.

Jadi, memang menjadi singleparent adalah bukan sesuatu yang benar.
Tetapi saya yakin, ini adalah jalan terbaik yang ada dari jalan-jalan
lain yang tersisa dalam pilihan hidup kita. Tetap, yang terpenting,
usahakan melihatnya dari perspektif anak, bagaimanapun si anak
membutuhkan banyak hal untuk menjadi manusia seutuhnya, adalah tugas
kita sebagai orangtua untuk memastikan mereka mendapatkan kebutuhan
terbaiknya.

Selain itu, bila kita semakin banyak mengagungkan pilihan ini,
ditakutkan semakin banyak orangtua yang memilih bercerai dari masalah
yang mereka hadapi saat ini. Ini tentu akan menimbulkan goncangan bagi
si anak. Bayangkan bila semakin banyak anak yang tercerai berai dari
orangtua nya. Kita harus secara arif dalam meperkenalkan komunitas ini.
Bagaimana menurut para moms & paps disini ???

Maaf bila ada salah kata.
Mohon feedback dan masukannya..

Tidak ada komentar:

Facebook