Selasa, 27 November 2012

Lirik Hello - Single Parent

Lirik Hello Single Parent

Apakah hidupku begini, terus begini
Apa-apa ku tanggung sendiri
Kau tinggalkan aku di sini dan buah hati 
Yang selalu setia menemani

Namun diriku akan tetap tegar
Menjalani semua ini

Single parent, inilah hidupku
Inilah jalanku, aku ikhlaskan sayang
Walau berat keadaan ini harus ku hadapi
Meski aku seorang diri

Apakah hidupku begini, terus begini
Apa-apa ku tanggung sendiri
Kau tinggalkan aku di sini dan buah hati 
Yang selalu setia menemani

Namun diriku akan tetap tegar
Menjalani semua ini

Single parent, inilah hidupku
Inilah jalanku, aku ikhlaskan sayang
Walau berat keadaan ini harus ku hadapi
Meski aku seorang diri

(single parent, inilah hidupku
Inilah jalanku, aku ikhlaskan sayang
Walau berat keadaan ini harus ku hadapi
Meski aku seorang diri)

Single parent, inilah hidupku
Inilah jalanku, aku ikhlaskan sayang
Walau berat keadaan ini harus ku hadapi
Meski aku seorang diri



hihi edsi iseng kala sore browsing sambil nyeruput hot chocolate..ko ya nemu lagu baru nya Hello jadi tergelitik buat download dan menikmatinye

yuks ah lanjut nge browsing maning

Salam,

WJ

MAKNA KOMPETENSI DAN PERSAINGAN BAGI ANAK

MAKNA KOMPETENSI DAN PERSAINGAN BAGI ANAK


Akhir-akhir ini topik tawuran sedang menjadi topik yang hot. Berbagai pihak ikut meramaikan masalah ini dengan memberi komentar, yang positif maupun yang negatif, malah banyak yang menuding kesalahan ini terjadi akibat kelalaian pihak tertentu, dalam hal ini sekolah dan guru sebagai pihak otoriter karena yang tawuran itu murid sekolah! Akar dari semua itu bisa saya simpulkan berangkat dari adanya persaingan (sehat tidak sehat). Lantas muncul banyak pihak mempersalahkan kurikulum kita, menyalahkan mengapa sampai terjadi persaingan. Pro dan kontra terus bergulir: apakah persaingan itu sendiri tidak baik dan hanya merusak mental pelajar? Kalau persaingan ditiadakan apakah kemudian para pelajar tidak termotivasi untuk melenjitkan potensi diri melebihi potensi orang lain?


Kata kompetensi dan persaingan berasal dari akar kata COMPETE, yang berarti bersaingan, berlomba atau usaha untuk mengalahkan pihak lain. Kata COMPETE setelah mendapat akhiran menjadi kata COMPETENCE, makna keduanya menjadi berbeda sama sekali. Competence atau kompetensi berarti mempunyai kemampuan, skill, keahlian di bidang tertentu. Contoh makna kompetensi misalnya:

·        Uji kompetensi guru berarti menguji kemampuan seorang guru untuk mengajar di bidangnya. Ujian ini yang akhir-akhir ini juga sedang marak menghiasi media cetak kita di tanah air.

·      Murid perlu menunjukkan kompetensinya di mata studi tertentu untuk menunjukkan bahwa ia telah memahami, menguasai apa yang telah ia pelajari. Salah satu barometer yang digunakan (atau mungkin satu-satunya!) adalah melalui ujian atau ulangan, sidang skripsi.

·       Uji Kompetensi Hakim (UKH) berarti menguji kelayakan seseorang menjadi hakim yang adil, bijak agar mampu mengemban tugas berat yang diberikan karena menyangkut nasib orang lain.

Di artikel ini saya membatasi bahasan kompetensi hanya di dunia pendidikan dan anak didik. Ada hubungan yang sangat relevan antara persaingan dan kompetensi anak. Anak bersaing merupakan suatu perilaku. Para psikolog mengatakan bahwa perilaku bisa merupakan bawaan (nature) dan hasil didikan (nurture).


Perilaku Alamiah (Nature)

Ketika seorang anak dilahirkan, secara alamiah instink dia untuk mempertahankan kelangsungan hidup, kenyamanan dan keamanan dia telah ada. Ini bisa kita lihat saat anak ini mendapat adik baru atau adanya kehadiran anak lain yang seusia ia atau lebih kecil/besar dan orang tuanya memuji, memperhatikan atau menggendong anak tersebut. Secara naluri dia akan merasa terancam dengan kehadiran anak baru itu dan tingkah laku yang diperlihatkan pada saat itu bisa berupa: ngambek, mencakar, menjambak, memukul, cemberut diam seribu bahasa atau menangis. Hal ini ia lakukan karena ia ingin perhatian orang tuanya murni tercurah kembali kepadanya.


Perilaku Hasil Didikan (Nurture)

Seorang teman saya mengatakan anak adalah video recorder terbaik di dunia. Anak akan merekam semua ucapan yang Anda ucapkan, perbuatan yang Anda lakukan, perasaan yang dia rasakan dan memutar kembali semuanya tanpa salah sedikitpun. Dan sejalan dengan perkembangan umur dan kemampuan berpikirnya, ia akan mengembangkan apa yang telah ia rekam: apa yang ia dengar, lihat dari Anda dan apa yang ia rasakan saat itu! Ia akan mempunyai persepsi, nilai yang dibentuk di benaknya sendiri dan semua itu akan tertuang kembali dalam bentuk perilaku. Ada orang tua yang kemudian berkata: "Dari mana ya dia belajar itu semua? Tidak mungkin kami mengajarkan yang jelek-jelek kepadanya." Lebih parah lagi bila orang tua tersebut tidak mau introspeksi diri dan kemudian melemparkannya kepada baby-sitter, orang tua/mertua atau orang yang membantu mengasuh anak tersebut.


Sudahlah, itu mengenai perilaku. Mari kita fokuskan kepada kompetensi. Kompetensi penting sekali bagi seorang anak karena kompetensi adalah barometer ia berhasil mempelajari sesuatu yang berguna bagi masa depannya, meningkatkan harkat - martabat dan kemandiriannya kelak. Tapi apa cara pengukuran yang paling efektif? Apa barometer yang benar-benar akurat?


Orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Selama ini barometer yang digunakan adalah nilai! Bila seorang anak mencapai nilai tinggi atau ranking pertama di kelas, dia dianggap kompeten. Maka para orang tua berlomba memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Nursery dan playgroup sampai dengan Taman kanak-kanak, juga tingkat selanjutannya pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Jenis tawaran bentuk pendidikan pun beraneka ragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya, ada yang menggunakan Rupiah, ada yang menggunakan US dollar. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Dari kursus yang berjanji dapat membuat otak anak cerdas, menggunakan otak kiri-kanan-tengah, pintar berhitung, cakap cas cis cus dalam berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul memasuki era penuh kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua...namun orang tua tidak keberatan. Kata mereka: "Demi masa depan anak." …. "Untuk siapa lagi kita cari uang kalo bukan untuk mereka."


Ya, orang tua jaman sekarang memang gampang merogoh saku mereka bila itu untuk putera puteri mereka. Berbeda dengan beberapa dekade yang lalu. Ada beberapa hal yang mendasari tindakan orang tua. Satu, karena anak-anak dalam suatu keluarga jauh berkurang dibanding dengan keluarga di era 1950-60an di mana dalam satu keluarga bisa ada 10-15 anak dari satu ayah dan satu ibu. Keluarga sekarang hanya ada satu atau dua anak. Jaman sekarang juga kebanyakan suami isteri berperan sebagai pencari nafkah sehingga kesejahteraan keluarga di bidang materi terjamin. Keluarga-keluarga ini mampu membiayai pendidikan anak-anaknya, formal maupun informal.


Hal kedua lebih bersifat psikologis. Pasangan orang tua yang mencari nafkah merasa ingin memberikan pendidikan yang terbaik untuk putera-puteri mereka. Untuk itu berapapun biayanya mereka akan berusaha memenuhi, sebagai pengganti kehadiran mereka dalam peranan mendidik anak. Di jaman sekarang iklan dalam berbagai bentuk berusaha mencapai orang tua seperti ini, mereka tidak segan-segan menjanjikan hasil yang amat menakjubkan dengan menggunakan berbagai metode pendidikan.


Hal lainnya adalah keinginan orang tua agar putera-puteri mereka menjadi anak super. Anak-anak dipaksa menjadi lebih cepat matang, lebih cepat dewasa dari pada umur mereka. Kadng saya terenyuh melihat orang tua yang demikian. Mereka tidak segan-segan mendaftarkan anaknya pada nursery yang berjanji bisa mengajar anak mereka yang berusia 1 tahun untuk mampu membaca. Tanyalah pada dokter-dokter, apakah mata bayi berumur satu tahun sudah waktunya dipaksa fokus untuk mngenal alphabet dan membaca. Mungkin hanya di Indonesia hal ini terjadi, namun program ini laris manis untuk ditawarkan kepada orang tua.


Perilaku orang tua yang berlomba-lomba untuk membentuk anaknya menjadi anak super, tidak mau kalah dengan temannya yang anaknya mampu ini dan itu, ditafsirkan anak sebagai persaingan. Mereka belajar persaingan dari orang tua mereka. Mereka mencerna bahwa bila ingin diakui, dihormati dan disegani seseorang perlu punya kelebihan yang bisa dilihat, didengar, diperlihatkan dan dibuktikan. Mereka memaknai kompeten sebagai kompetensi!

Anak-anak yang dipaksa matang sebelum waktunya akan berdampak pada perkembangan emosi dan psikisnya. Mungkin secara intelektual tidak bisa diragukan. Terbukti sering kita dengar: "Anak-anak sekarang pintar-pintar ya?" Namun emosi mereka belum berkembang sejalan dengan intelektualnya. Mereka labil, dan hal itu muncul dengan sikap mereka yang acuh, pembangkang, tidak mau bergaul dan sejumlah permasalahan. Semua itu muncul sebagai keinginan batin mereka untuk berkominaksi keada orang tua mereka: "Saya ingin didengarkan, diperhatikan dan saya belum siap dengan pengetahuan yang saya pelajari dan ketahui!"


Saat ini pemerintah, para tenaga pendidik, pemerhati pendidikan sedang merencanakan menyusun kurikulum baru yang lebih bersahabat dengan siswa di setiap jenjangnya.  Apa yang diharapkan dari kurikulum baru? Kurikulum baru idealnya memperhatikan minimal kebutuhan dan dunia anak zaman sekarang. Semoga kurikulum pendidikan yang baru tidak lagi terlalu menekankan segi kognitif. Para siswa tidak hanya terbatas pada mencari nilai angka, namun lebih mengajarkan mereka kemampuan menganalisis secara kritis dan mendalam suatu bahan, mampu berpikir kreatif dan mempunyai nilai karakter yang kuat.  Anak-anak, terutama di usia muda, amat membutuhkan nilai karakter yang kuat agar mereka kelak menjadi manusia Indonesia yang mandiri, bermartabat, cinta tanah air dan penuh kasih sayang kepada sesame, serta mampu menerima perbedaan, mengingat kaya dan beragamnya budaya bangsa Indonesia.


Kita perlu memperjelas tujuan pendidikan pada jenjang masing-masing SD, SMP, SMA. Harapan yang ingin dicapai bila anak lulus SD, SMP, dan SMA harus jelas dan realistis? Kita boleh saja tetap menuntut kompetensi dari mereka sebagai bukti bahwa mereka telah paham dan menguasai apa yang telah dipelajari di setiap jenjang pendidikan.  Yang sangat perlu ditekankan adalah mereka memahami kompetensi itu berbeda dengan bersaing. Boleh saja mereka ingin lebih baik, itu semangat yang sangat bagus. Tugas orang tua, pendidik dan edukator ada baiknya sedari dini mengubah paradigma mereka. Menjadi lebih baik itu tidak berarti lebih kuat, lebih pintar, lebih kaya, lebih dari pada orang lain.


Semoga kurikulum yang baru membuat mereka mengerti arti kompetensi Saya Lebih Baik (I AM BETTER) itu berarti saya hari ini lebih baik, lebih sehat, lebih pintar dari pada saya yang kemarin! Mulailah sedari dini menanamkan kepada mereka arti konsep 'lebih baik' itu. Dengan begitu secara otomatis mereka juga akan berusaha menjadi lebih baik setiap harinya. Tanpa perlu mengalahkan orang lain secara menggebu-gebu bukan? Tujuan sekunder lain yang bisa tercapai antara lain: anak paham nilai sehat jasmani dan rohani, anak mau berempati dan mengakui kelebihan orang lain secara lapang dada, anak temotivasi memperbaiki diri sendiri dengan mengubah perilaku diri sendiri yang kurang baik.


Semoga para penyusun kurikulum yang baru untuk tahun 2013 bersedia mempertimbangkan usul ini. Tanggung jawab mendidik anak Indonesia tidak hanya merupakan tugas Menteri Pendidikan, kaum guru, para edukator, orang tua dan pemuka agama. Kita tidak bisa membebankannya hanya kepada sekolah dan guru. Alangkah tidak adilnya bila status suatu sekolah harus diturunkan bila ada murid dari sekolah itu tawuran. Pemerintah lepas tangan. Orang tua menganggap selama anak ada di jam sekolah maka tugas dan tanggung jawab mendidik adalah tugas guru dan sekolah. Kita tidak boleh lupa bahwa perlaku seorang anak tercipta dari berbagai unsur.


Proses pendidikan adalah suatu proses yang berlangsung seumur hidup, dimulai pada saat ia dilahirkan. Hal ini berarti keberhasilan seorang anak terbentuk dari pendidikan yang diterimanya, yakni dari: keluarga, sekolah dan lingkungan atau komunitas di mana anak tersebut tumbuh (dibesarkan). Dan sifatnya adalah jangka panjang dan berkelanjutan. Anak-anak hanya akan tumbuh menjadi pribadi yang matang bila dibesarkan di lingkungan yang berkarakter, sehingga hakekat setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal. Dan karakter yang ini terbentuk dari suatu kebiasaan (habit) yang terus menerus dipraktekkan. Mari kita sadari bahwa semuanya punya andil dalam mendidik, agar bisa menghasilkan insan Indonesia yang lebih baik, yang tidak kalah derajatnya dengan warga Singapura, Amerika Serikat, Australia dsb.  Anak Indonesia juga penuh potensi yang bisa dikembangkan!

 

Penulis: Ling Majaya

Email: Majaya@JadiKreatif.com

"Thinking is my lifestyle."

 

PS: Penulis dengan senang hati menerima tanggapan, kritik, sanggahan dan masukan dari para pembaca karena dengan demikian terjadi proses belajar tiada henti dalam dunia pendidikan. Tugas mendidik merupakan tugas orang tua, guru, edukator dan masyarakat. Mari bangun Indonesia yang lebih baik melalui peningkatan potensi dan karakter putera-puteri kita.

__._,_.___

Rabu, 04 April 2012

Multitasking Tips Untuk Single Moms

Menjadi seorang single parent memang hal yang tidak mudah dilakukan. Namun, dengan keyakinan, kesabaran dan kepintaran, mendidik dan membesarkan anak akan menjadi suatu hal yang mudah dan menyenangkan.
Dalam membesarkan dan mendidik anak seorang diri, anda perlu meyakini bahwa anda bisa. Keyakinan tersebut akan dapat membantu anda lebih banyak daripada yang anda bayangkan. 

Bila anda merasa tidak bisa, maka yang terjadi adalah memang tidak bisa, begitu pula sebaliknya.

Keyakinan membuat apa yang anda pikirkan menjadi kenyataan. Besarkan anak secara multitask, yakni membesarkan anak dengan melakukan banyak tugas dan peran dalam suatu waktu yang bersamaan. Baik sebagai pengganti ayah, sebagai ibu ataupun sebagai seorang sahabat.
Dengan demikian, anak anda tidak merasa kekurangan kasih sayang dari ayah dan ibu sehingga dapat membantu mereka lebih dewasa dan berkembang secara benar. Berikut ini beberapa tips membesarkan anak secara multitask.

Satu, sadarilah bahwa ada perbedaan usia di antara anda dengan anak sehingga ada perbedaan cara berpikir atau menanggapi dan memandang sebuah masalah. Jangan membawa emosi yag berlebihan kepada anak karena anak semakin susah untuk diatur.
Berikanlah pandangan anda mengenai hal yang baik dan hal yang buruk, hal yang harus dikerjakan dan yang tidak. 

Dua, jangan suka mengeluh mengenai kehidupan anda yang merupakan single parent kepada anak karena membuat anak menjadi minder dan tidak mematuhi apa yang anda katakan.
Lakukan dengan hati yang lapang dan menyenangkan sehingga anak menjadi lebih percaya diri meskipun dengan keadaan keluarga yang tidak lengkap. 

Tiga, ajak anak berkomunikasi secara rutin dan sesering mungkin. Libatkan mereka dalam beberapa tanggung jawab di rumah sehingga mereka mengetahui pentingnya diri mereka di mata anda.
Perlakukan mereka seperti sahabat anda, seperti teman kos anda di rumah meskipun kadangkala anda wajib menegur mereka untuk memberi pengarahan kepada mereka mengenai hal yang baik dan yang buruk. 

Empat, ajak mereka berekreasi sekali waktu.
Luangkan waktu kerja anda dengan mengatur waktu untuk kerja dan untuk bersantai bersama dengan anak anda. Anda dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengajak teman ikut bersama anda dan anak jika mereka menginginkannya.

Lima, bila memungkinkan anda dapat menyewa seorang pengasuh yang terpercaya jika anda sedang lembur di kantor untuk membantu anda mengawasi dan menjaga anak anda di rumah. Libatkan saudara, teman dan sahabat untuk membantu anda dalam mengasuh sesekali waktu.

Salam hangat saya untuk orang terdekat Anda, 


Miranda Kalila
http://www.Nama-Bayi.net



from : Jarot Puntoaji

Komunitas Single Parent Dibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Rabu, 28 Maret 2012

Rahasia Pribadi

Aib atau rahasia pribadi memang kadang susah-susah gampang untuk disimpan. Kadang tak sengaja kita sendiri yang mengungkapkannya. Curhat tak berkesudahan kepada orang yang ternyata tak mengemban amanah.

Dan kita juga suka lupa bahwa sebenarnya orang lain juga dapat membaca bahasa tubuh kita, nada suara, senyum kita, kesedihan kita, yang akhirnya kesimpulan yang mereka ambil mendekati wilayah rahasia diri kita.

Sisi lain, kitapun senang mengetahui aib orang lain. Rasa penasaran dalam hati menjadi semangat untuk mencari-cari. Kebanyakan dari kita merasa bahwa membicarakan aib cacat atau cela yg ada pada orang lain bukanlah perkara yg besar. Kata-kata terungkap seperti tanpa salah, padahal terselip menjatuhkan.

Kata-kata aib itu kita suka anggap remeh dan buruknya lagi, kata-kata itu meluncur dengan mudahnya dari lisan, sampai lupa diri sendiri tidak sempurna penuh dengan cacat dan cela.

Bukankah kita mulia karena Allah SWT telah menutup aib kita. Bukankah para ulama, para tokoh pemuka itu mulia karena Allah SWT. Iya pikirku, betapa banyak aib dalam diriku yang tak diketahui orang lain, sehingga diriku terlihat mulia di hadapan mereka. Kadang pujian mereka layangkan untukku, itu karena Allah SWT tak mengangkat aibku dalam permukaan. Cukuplah Allah SWT sebagai pembuat keputusan, cukuplah ia yang akan menghinakan.

Semoga selalu menjadi pengingat untukku....... Aamiin.......







Komunitas Single Parent Dibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Kamis, 06 Oktober 2011

Kini Aku Tetap Bersyukur …

13 tahun melalui biduk rumah tangga bersama ditengah gelombang pasang surutnya kisah,
Akhirnya terpisah juga,
Dulu kuhabiskan hidupku meratap, menerima cerca fitnah, menangis bila malam menatap bocah-bocah kecilku tertidur lelap.

Seakan kebaikan setetes pun tak tersisa dariku,
Dia meninggalkanku untuk wanita lain yg tlah kusetujui sebagai adik maduku,
Pedihnya luarbiasa …


Semua mudah berkata,"Ya kalau jadi istri yg benar, tak mungkinlah suami menikah lagi".
Aku hanya diam.
Terkucilkanlah diriku dilingkungan keluargaku yg sangat menjunjung nilai.

Hidupku terseok dan tak ada bantuan darinya untuk anak-anak kecilku,
Bahkan keluargaku sendiri tak ada yg membantu.
Alasannya malu dengan keputusanku bercerai,

Bagaimana tidak bercerai, ex suami menginginkan karena calon istrinya yg sedianya jadi istri kedua – meminta status duda.

Kuhantar ex suami dengan cara terbaik yg masih tersimpan dalam cinta pengabdianku.
Sebelum sidang perceraian di pengadilan negeri, kami bercinta … bercinta perpisahan … dengan airmata tentunya.
Mandi basah bukan dengan senyuman, tapi airmata tetap mengalir. Tangannya tetap kugenggam.
Kubisikkan,"Bi, ceraikan adik talaq 1 saja ya … Bila Abi tak bahagia, kembalilah padaku.."

Selepas siding dan ikrar talaq, ku tak bisa lagi bergandeng tangan dengannya karena bukan mahramku lagi.
Saat itu, kami hendak melaksanakan haji yg kedua kalinya. Dia menggantikan dirinya dengan abangnya.

Saat melepas kepergiannya, kubagi separuh tabungan untuk bekal pergi haji buatnya.
"Bi, adik tak bias memberi banyak. Belilah ini untuk peningset istri Njenengan …".

Masih kuingat dia menangis ketika menerimanya. Aku pun menangis. Semoga berbahagia mantan suamiku…

Keuangan begitu memburuk.
Sedang anak-anak perlu biaya besar untuk sekolah.

12 tahun kemudian.

Anak-anakku telah bertumbuh remaja dan si sulung sudah menikah.
Mereka masuk pesantren … dengan nekad kuhubungi pengurus untuk meminta keringanan bahkan tunjangan penuh.
(Malu luarbiasa karena memang aku tidak punya apapun).
Alhamdulillah … semua menjadi bintang.
Mereka berprestasi. Akhirnya berhak mendapat beasiswa.

Kini kubersyukur …
Hati anak-anakku bertumbuh menjadi jiwa pengasih,
Ketika acara tahunan kami berkumpul (mereka libur setahun 2x),
Saling membacakan proposal masa depan.
Aku dan anak-anakku saling meng"Amin"kan harapan baik.

Navis – jejakaku yg no 2 membacakan : Ingin menjadi suami dan ayah terbaik dalam rumahnya …(Wow…masya Allah),
Ingin memuliakan istri dan ibunya…

Naufal bercita-cita : tak ada cita-cita lain selain berbakti pada ibunya.
Tanda baktinya pada Ibu adalah taat mengikut kata arahan ibu. (Airmata syukurku berlelehan).

Kini aku bersyukur …
Andai tak ada airmata panjang dulu,
Jiwa anak-anakku tak tertempa keras untuk mudah empati,
Mereka sangat sensitif dengan penderitaan kawannya,
Mereka menjadi terapis bagi kawan-kawan yg mengalami separuh nyawa yg hilang,
Semua anakku saling menyayangi, berbagi kemudahan yg mereka miliki… Ohh indah sekali.

Kini aku makin bersyukur pernah bersamanya,
Andai tidak bersamanya, bagaimana mungkin hadir pahlawan-pahlawan kecil dalam hidupku yang menjadikan dia menjadi ayah mereka.

Anak-anak sering menggoda,"Mah, Abi masih mencintai Ummah lho… Sering ingat makanan Ummah, nih dikirimi Abi .."

Kini aku bersyukur …
Ketika menikmati kiriman mantan suamiku,
Bukan kuenya,
Bukan cinta yg terlambat disadari,

Aku bersyukur …
Karena `pernah" berupaya "termanis" yang bisa kubuat dalam menjalani alur kehidupan.

Sesekali mantan telp … menangis dan menyatakan jika "Mah… Abi slalu berdoa untuk Ummah bahagia..".

Aku tersenyum dan "Alhamdulillah"…

Hamdalahku bukan karena mantan suamiku telah hidup di era penindasan istri yang bisa membuatnya menangis,
Karena istrinya adalah orang yg membantuku membuat mantan suamiku semakin menyadari keindahan yg pernah ada …

Hamdalahku karena kudapati Tuhan adalah segala-galanya.
Kunikmati hidup total bergantung pada Allah,

Berterima kasih atas diizinkanNya bersamanya,

Kini hidupku sedang mengabdi pada suami yg mantan duda (dulu ditinggal istri untuk orang lain juga).

Dia beranikan diri bersumpah pada Allah untuk menjadi imamku dalam pernikahan apa adanya di KUA,
Tapi megah rasa syukur kami.

Kini aku berada laksana disurga,
Dipelataranku terbentang pantai indah,
Menoleh kebelakang adalah pegunungan yg menghijau,
Kusambut The King tiap petang dari tempat kerjanya,
Dengan senyuman dan pengabdian yg kuupayakan terindah.
Kulepas tiap pagi The King dengan bungkukan menghormatku padanya,
Karena …
Aku sebagai The Queen tak pernah tahu sampai kapan Allah meminjamkan semua fasilitas ini semua …
(Suami, anak, harta, … adalah dunia yg dipinjamkanNya).

Kini aku tetap bersyukur…

Sumber : Ummah Afifa





Komunitas Single Parent Dibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Rabu, 05 Oktober 2011

Exlusive Morning Statements


"Performance always comes from passion & not from pressures". 
Be passionate.. Love what you do & do what you love.


The highest power is the power of thoughts. 
When your thoughts become firm like rock- solid resolution, 
Even imagination becomes reality.


A good heart and a good nature are two different issues. 
A good heart can win many relationships 
But a good nature can many hearts.


Never feel all doors are closed in your life. 
All closed doors may not be locked. 
They may be waiting for your gentle push.


A great soul said " Yesterday, I was clever. So I wanted to change the world. 
Today I am wise. So I am changing myself." 
It is better to be wise than to be clever.


End is not the end. In fact E.N.D. Is "Effort Never Dies" and 
If you get NO  in answer remember N.O. Is "Next Opportunity". 
So always be positive in life !!!


Good Morning !!!


Komunitas Single Parent Dibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Selasa, 04 Oktober 2011

Filosofi Dasar Dalam Hidup


Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua,
"Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga ?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup - jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.

Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.

Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik.Ini semua dapat diartikan: supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.

Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik. Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan.

Berkeras hati & berusaha mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal, suatu keadaan atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.

Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya. Karena tiada badai yang tak berlalu. Tiada Pesta yang tak pernah Usai. Semua yang ada didunia ini tiada yang abadi
Sumber: Renungan Harian
B2B
Ruth

Komunitas Single ParentDibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Mengasuh Anak Dengan SAYAP PATAH


AYAH yang luar biasa, kali ini diskusi kita adalah soal AYAH yang sendirian mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sejujurnya, kalau boleh memilih janganlah takdir itu jatuh kepada kita. Janganlah hendaknya Allah pilih kita sebagai AYAH tunggal. Sendirian menemani anak tumbuh kembang sepanjang hari. Sendirian menjalani dua peran sekaligus. Seperti seekor burung terbang ke sana kemari dengan satu sayapnya patah terkulai.

AYAH tunggal, ditengarai semakin banyak jumlahnya akhir-akhir ini. Penyebabnya banyak. Ada yang disebabkan oleh meninggalnya pasangan. Tapi yang terbanyak adalah karena kasus perceraian. Dari semua akibat yang disebabkan oleh kejadian ini, tentulah selalu yang menjadi korban terberatnya tidak lain tidak bukan adalah sang anak. Anaklah yang merasakan derita fisik maupun psikologis hidup tanpa ibu.

Tapi malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Takdir Allah telah mendatangi AYAH. Belum ada pilihan selain membesarkan anak-anak dengan tangan sendiri tanpa pasangan lagi. AYAH harus lakukan pengasuhan dan pendidikan anak sampai datang ketentuan Allah yang lain dan terbaik. Berikut ini ada beberapa mitos yang harus AYAH tunggal buang jauh-jauh.

Mitos 1 : AYAH Tunggal Tidak Tahu Cara Merawat Anak
Allah Maha Adil. Secara fitrah, Allah memberikan rasa kasih sayang yang sama kepada anak antara ibu dan AYAH. AYAH punya potensi yang sama dalam merawat anak-anak bahkan dalam keadaan sulit sekalipun. Hanya saja tentulah AYAH membutuhkan waktu dan kesemaptan untuk relajar dalam merawat anak.

Mitos 2 : AYAH Tunggal Tak Mau Mengorbankan Waktunya Demi Anak-anak
Dulu, banyak orang berprinsip para AYAH tak boleh keluar dari pekerjaannya. Kini, ketika ketentuan Allah membuat AYAH tunggal harus realistis maka mengurus anak-anak sambil bekerja bukanlah pilihan yang buruk.
Banyak AYAH tunggal yang memutuskan bekerja di rumah saja. Mereka berkreasi dengan pekerjaan-pekerjaan yang bisa dikendalikan dari rumah.

Mitos 3 : AYAH Tunggal Pasti Tidak Mampu Mengasuh Anak
Mitos ini memang betul-betul sudah lama sekali. Kini, banyak AYAH tunggal yang amat terampil mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Teramat banyak kita temui AYAH tunggal yang sangat terampil dalam membantu kebutuhan anak sehari-hari.

Mitos 4 : AYAH Tunggal yang Mengasuh Anaknya, Karirnya akan Cepat Hancur
Kini zaman sudah berubah. Kini tak ada laik lagi berpikiran bahwa antara karir dan pekerjaan adalah dua hal yang amat bertentangan. Pada prinsipnya adalah semua kesuksesan apapun juga selalu berawal dari rumah.

AYAH budiman, setelah kita singkirkan mitos-mitos tadi, maka ada baiknya kita melihat beberapa tips sukses menjadi AYAH tunggal. Lagi-lagi semuanya ini sambil menunggu ada takdir lain yang terbaik dari Allah Sang Maha Kuasa. Ini dia tipsnya.

Pertama. AYAH Bukanlah Orang Tua Serba Bisa. AYAH dengan semua beban psikologis tentulah bukan AYAH yang bisa menjadi orang tua lengkap dan sempurna. AYAH tak bisa melakukan semuanya. Mintalah bantuan orang lain, terutama orang-orang muhrim dari anak-anak kita dan yang paling penting mengerti dan memahami pola pengasuhan kita.

Kedua. Bersikaplah Jujur dan Terbuka Kepada Anak. Sikap ini sebaiknya AYAH lakukan kepada anak-anak. Tentulah semuanya sangat bergantung kepada kondisi anak-anak dan tahap perkembangannya.

Ketiga. Tetap Merawat Diri. Hidup sendiri dengan tugas ganda bukanlah alasan buat AYAH untuk tidak menjaga kesehatan dengan pola hidup yang baik. Makanan bergizi, olah raga dan cukup tidur

Keempat. Positif dan Rilek Saja. Mungkin ini agak gampang diucapkan tapi susah dilakukan. Tapi tetaplah terus percaya penuh kepada ketentuan Allah. Pastilah akan ada kemudahan di samping kesulitan.

Kelima. Cinta Full kepada Anak. Percayalah AYAH bahwa, ketika AYAH tidak mengurangi perhatian, menghargai, kasih sayang kepada anak-anak maka mereka akan tumbuh dan berkembang dengan tetap baik meski hidup hanya dengan AYAH tunggal.

Keenam. Luangkan dan Kelola Waktu. Sadarilah bahwa waktu AYAH sekarang tak lagi seperti dulu. Inilah saatnya mengelola waktu dengan baik. Pertimbangkan juga kegiatan anak.

Ketujuh. Usahakan Tak Ada Perubahan Pola Asuh. Meski kini tinggal sendiri, sebaiknya AYAH usahakan tidak merubah pola asuh seperti idealnya sepasang orang tua. Terutama disiplin.

Kedelapan. Jangan Bebani Anak. Anak tak punya andil sehingga AYAH menjadi AYAH tunggal. Mereka bukanlah penyebab perceraian apalagi kematian ibunya. Bebaskan anak-anak dari perasaan tersebut.

Kesembilan. Kuatkanlah Hubungan dengan Sang Pencipta. Ini sepertinya tak bisa ditawar-tawar. Berusahalah AYAH untuk terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Mungkin dengan rutin membaca Al Quran, mengikuti pengajian dan sejenisnya.

Menjadi AYAH tunggal pastilah tak ada seorangpun yang bercita-cita seperti itu. Namun semua ketentuan hidup ada di tangan Allah. Kalaulah Allah takdirkan kita yang dipilih, semogalah kita dikuatkan dan mudahkan segala urusan terutama dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Amin.


From : Herlambang

diambil dari salah satu kisah buku "Aku Mau Ayah" penulis Irwan Rinaldi ...


Komunitas Single ParentDibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Apa arti kebahagiaan


Memiliki kekayaan yang tidak habis dipakai seumur hidup? Ataukah bersama sekelompok teman baik bersuka-cita menikmati keindahan alam?

Sebenarnya ini bukanlah kebahagiaan sesungguhnya. Lalu apakah kebahagiaan sejati? Ketika orang lain melakukan kesalahan kepada kita, kita masih dapat bertoleransi, dengan demikian barulah akan memperoleh kebahagiaan sejati.
Bertoleransi dapat membuat seseorang menjadi semakin teguh. Artinya: "Jangan menggunakan kesalahan orang lain untuk menghukum diri sendiri." Han Xin, jenderal besar pendiri Dinasti Han, pernah diprovokasi oleh seorang berandal di pasar, untuk dapat lewat Hanxin dipaksa harus merangkak melalui selangkangannya.

Hanxin tidak ingin konflik terjadi dengannya, setelah berpikir sesaat akhirnya ia menyetujui permintaan yang tidak logis ini. Sekalipun telah dihina, Hanxin masih tidak ingin mencela pihak lain. Dengan sikap yang terang dalam menghadapi masa-masa sulit, sehingga hatinya menjadi semakin kokoh, seperti keuletan rerumputan dalam menghadapi angin dan hujan, sulit untuk dipatahkan. Yang paling patut dibanggakan seseorang bukanlah keberhasilannya, melainkan sikapnya terhadap kegagalan.

Toleransi dapat membuat seseorang menjadi lebih berani. Inilah yang disebut:

"Ketika Anda bertoleransi kepada orang lain tidak akan terdapat musuh."

Saya ingat sebuah cerita yang terjadi di India. Ketika Sang Buddha masih hidup, karena sesuatu alasan pernah ada orang yang iri hati terhadapnya. Mereka ingin membunuh Sang Buddha, maka mereka berencana menempatkan seekor gajah besar yang mabuk di jalan yang akan dilalui Sang Buddha agar menabrak Sang Buddha.

Pada suatu hari Sang Buddha benar-benar melewati lembah itu, orang yang iri padanya menempatkan gajah yang telah mabuk tersebut. Gajah itu datang menerjang ke arah Sang Buddha. Dengan penuh toleransi, kasih sayang, kedamaian dan ketenangan Sang Buddha memandang gajah tersebut. Pada saat itu juga, si gajah menghentikan langkahnya, dan Sang Buddha tak diterjangnya.

Toleransi dapat membuat orang lebih berpikiran terbuka. Xie Kunshan salah seorang pelukis pria dengan mulut, menjadi cacat karena tidak sengaja menyentuh kabel listrik ketika bekerja. Arus listrik mengaliri seluruh tubuhnya, ketika siuman mendapati dirinya telah berada di rumah sakit. Dia menatap pilu kedua lengannya yang telah diamputasi, merasakan seluruh kejadian, dia berharap ini hanya merupakan sebuah mimpi buruk.

Setelah kesehatannya pulih, ada orang yang mengusulkan agar dia menjadi pengemis, yang dapat menyambung hidup hanya dengan meletakkan sebuah mangkuk di depannya.

Namun pemuda ini berkata, "Saya hanya melihat apa yang saya miliki, bukan melihat apa yang tidak saya miliki." Kemudian dia berjuang menciptakan metode makan tidak dengan tangan, kemudian mulai menulis dan menggambar dengan mulut, pada awalnya sangatlah sulit dan menyakitkan.

Atap rumah Xie Kunshan banyak yang bocor, setelah menghadapi hujan lebat semalam suntuk. Pada saat itu ia masih duduk di sekolah menengah atas, ia meminta adik perempuannya memperbaiki buku yang rusak. Ketika membuka paku bukunya, karena kurang hati-hati, telah membentur mata kanannya sehingga selaput jalanya terlepas, dengan demikian ia kehilangan pula sebuah mata yang dapat mengamati dunia luar.

Setelah memasuki dunia seni, dengan pikiran yang lebih terbuka ia melewati lembah kehidupan yang justru membuatnya melupakan penderitaan. Kalau saja pada saat itu ia tidak dapat melepaskan kondisi yang dihadapinya, menuruti kata orang menjadi pengemis, membenci manusia atau sepanjang hari menangis, tidak akan berkesempatan untuk belajar memiliki pikiran terbuka dan membuat diri sendiri berhasil.

Manusia kadang-kadang mungkin saja dapat diselimuti awan kemuraman oleh karena kesalah-pahaman; mungkin juga di dalam perjalanan hidup kita perlu berdoa untuk memperoleh perisai kekuatan. Biarlah keberanian mengembangkan visi baru, biarlah pikiran terbuka membawa kita menghadapi wajah asli kehidupan, menuju ke kehidupan yang lebih cemerlang dan kaya makna. [Tiffanny Chen / Batam / Tionghoanews]

Phink
http://www.facebook.com/phinkyshop.unique

Komunitas Single ParentDibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Jumat, 20 Mei 2011

Single Parent & masalahnya


siapakah single parent itu?
Single parent adalah orang yang melakukan tugas sebagai orang tua (ayah dan ibu) seorang diri, karena kehilangan/ terpisah dengan pasangannya.

Mengapa seseorang menjadi single parent?
Ada banyak alasan yang menyebabkan seseorang menjadi Single Parent, diantaranya :
1. Tinggal terpisah karena pasangannya bekerja/belajar di kota/negara lain.
2. Kematian pasangan
3. Perceraian

Single parent yang terpisah dengan pasangan karena bekerja/belajar di kota/negara lain, memiliki beberapa masalah, seperti : merasa kesepian, tidak terpenuhinya kebutuhan seks sementara secara de jure ia seharusnya bisa mendapatkan pemenuhan kebutuhan seks dari pasangannya. Saat pasanganya berada jauh darinya, ia juga merasa berat membesarkan anak sendiri.

Seseorang yang menjadi single parent karena kematian juga mengalami masalah yang berat. Kematian pasangan yang mendadak membuat ia tidak siap menerima kenyataan. Namun jika mendapatkan pelayanan pendampingan/konseling yang tepat, ia dapat melalui masa-masa gelapnya. Idealnya, ia harus mendapatkan konseling kedukaan yang tepat sehingga kedukaannya tidak berlarut-larut (tidak lebih dari 6 bulan). Kedukaan yang berlarut-larut memperlambat pemulihan hati anak-anaknya. Selain itu, beberapa single parent yang ditinggal mati pasangannya mengalami masalah keuangan dan merasa kesepian.

Dibandingkan dengan kedua jenis single parent di atas, single parent yang berpisah dengan pasangannya karena perceraian, memiliki masalah yang lebih serius lagi. Setidaknya saya mencatat ada 6 masalah besar, yaitu :
1.Masalah emosional
2.Masalah hukum (hak asuh, dll)
3.Menjalin hubungan baik dengan mantan suami/istri
4.Menghadapi anak
5.Masalah dengan lingkungan
6.Masalah keuangan

Kondisi emosional single parent pasca perceraian :
. Kecewa
. Marah
. Mencari kambing hitam
. Membenci mantan suami/istrinya
. Cemburu terhadap rivalnya
. Mudah marah kepada anak-anak
. Luka batin/trauma
. Kesepian
. Merasa tak berharga
. Merasa teraniaya oleh lingkungan
. Mengasihani dirinya sendiri

Masalah Single Parent Pasca Cerai Dengan Anak-anaknya :
1. Single parent yang belum mengampuni dan masih membenci mantan suami/istrinya akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak-anaknya.

2. Single parent seringkali tidak menyadari bahwa ia bukan "super man/super women" sehingga di depan anak-anaknya ia berusaha menunjukkan dirinya perkasa dan dapat menyelesaikan segala sesuatu tanpa orang lain. Ia tidak melihat bahwa anak-anaknya memerlukan tokoh pengganti ibu/ayah.

Single parent pasca perceraian juga mengalami masalah dengan mantan pasangannya. Karena pengalaman pahitnya, seorang single parent sering tidak menyadari bahwa sejelek apapun mantan suami/istri-nya, ia tetap ayah/ibu dari anak-anaknya. Sebelum single parent mengampuni mantan pasangannya, ia cenderung ingin balas dendam. Beberapa single parent bahkan melakukan usaha balas dendam balas dendam kepada mantan pasangannya, dengan memanfaatkan anak-anaknya.

Apa yang dibutuhkan seorang single parent saat menghadapi situasi yang sulit pasca perceraiannya?

  1. Single parent perlu menjalani konseling pribadi untuk membagi beban/pergumulannya.
  2. Jika diperlukan, single parent juga bisa menjalani terapi untuk recovery dari trauma-traumanya. Untuk mencapai pemulihan, seorang single parent mau tidak mau harus mengampuni diri sendiri. Selanjutnya single parent juga harus mengampuni mantan pasangaannya. Kalau seorang single parent merasa disakiti oleh pihak ketiga, mertua atau orang lain di sekitarnya, maka single parent tersebut juga harus mengampuni mereka.
  3. Dukungan sosial/komunitas teman senasib (sesama single parent) juga dibutuhkan untuk menguatkan hati seorang single parent. Setidaknya, dalam persekutuan dengan kaum senasib, seorang single parent merasa tidak sendiri. Sesama single parent tentunya akan lebih mudah mengerti perasaan satu sama lain dan berempati dengan kawan senasibnya.
  4. Mendidik anak bersama-sama pasangan saja tidak mudah, apa lagi untuk menjadi single parent yang harus mengasuh dan membesarkan anak seorang diri. Oleh sebab itu, seorang single parent membutuhkan pengetahuan/ketrampilan single parenting yang memadai supaya bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya.Tanpa ketrampilan single parenting, seorang single parent akan mengalami kesulitan bagaimana menolong anak-anak untuk keluar dari trauma dan kepahitan hidupnya.
  5. Seorang single parent juga perlu melatih diri untuk bersikap bijaksana terhadap lingkungan.
  6. Untuk mengatasi masalah ekonomi, seorang single parent membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan/memanfaatkan talentanya dalam kegiatan-kegiatan produktif. Mungkin sementara ini ada beberapa orang berpikir untuk memberikan santunan sosial kepada single parent. Namun kita perlu hati-hati, pemberian bantuan cuma-cuma atau santunan sosial justru bisa merendahkan martabat dan harga diri seorang single parent. bantuan yang berdasarkan rasa kasihan atau iba juga dapat memanjakan dan "memiskinkan" single parent. Artinya, bantuan cuma-cuma tidak akan "memerdekakan" seorang single parent.
  7. Perceraian dengan pasangan seringkali merusak harga diri seorang single parent. Bahkan tidak sedikit single parent yang kehilangan makna hidupnya gara-gara ditinggalkan/bercerai dengan pasangan. Untuk membantu single parent menemukan kembali makna hidupnya, seorang single parent bisa dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan sosial atau kerohanian. Namun hal ini baru bisa dilakukan setelah sang single parent mampu menenangkan anak-anaknya.

Sumber : Mundhi Sabda Hardiningtyas
Komunitas Single ParentDibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Facebook