Selasa, 08 Januari 2013

In My Daughter's Eyes


Selamat siang menjelang sore...

Mau sekedar berbagi sebuah lagu yang selalu saya dengarkan apabila butuh semangat dalam mengarungi kehidupan sebagai single mom.
Mudah-mudahan bisa jadi penyemangat juga buat temen-temen lainnya.. :)

Judulnya: In My Daughter's Eyes
Penyanyinya: Martina McBride

Lagunya bisa diliat dan didenger di: http://youtu.be/eLS0Y40WwlA

Ini liriknya:

"In my daughter's eyes,
I am a hero,
I am strong and wise,
And I know no fear,
But the truth is plain to see,
She was sent to rescue me,
I see who I want to be,
In my daughter's eyes

In my daughter's eyes,
Everyone is equal,
Darkness turns to light,
And the world is at peace,
This miracle god gave to me,
Gives me strength when I am weak,
I find reason to believe,
In my daughter's eyes

And when she wraps her hand around my finger,
How it puts a smile in my heart,
Everything becomes a little clearer,
I realize what life is all about,
It's hanging on when your heart is had enough,
It's giving more when you feel like giving up,
I've seen the light,
It's in my daughter's eyes

In my daughter's eyes,
I can see the future,
A reflection of who I am and what will be,
And though she'll grow and someday leave,
Maybe raise a family,
When i'm gone I hope you see,
How happy she made me,
For i'll be there,
In my daughter's eyes.."

Komunitas Single Parent Dibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Ibu


Seorang Ibu tak berharap diberikan sejumlah uang sebagai pengganti kasih dan cintanya oleh anak-anaknya..

Seorang Ibu hanya berharap anaknya menemukan kebahagiaan dunia akhirat di jalan Ridha ALLAH..

Belaian tangan seorang Ibu, ciuman serta usapan lembut tangannya pada wajah anaknya dan setiap tatapan teduh matanya selalu penuh dengan do’a karena di sana ada segenap cinta serta ketulusan hatinya untuk buah hatinya..

Dalam untaian do’a seorang Ibu, namamu senantiasa disebutkan dalam getar bibirnya atau dalam lirih bisik bathin dan hatinya hingga saat-saat terakhir hidupnya, nafasnya, detak jantungnya, engkau adalah do’anya..
__._,_.___



Komunitas Single Parent Dibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Keseimbangan dgn Kesyukuran

Mereka yang benar-benar sembuh adalah mereka yang tidak mempermasalahkan apakah dirinya sehat atau sakit.

Mereka yang benar-benar beruntung adalah ia yang tidak 
mepermasalahkan apakah ia mendapatkan atau kehilangan

Kebahagiaan adalah ketika kita mampu merangkul kedua sisi yang berseberangan itu, keduanya adalah pengalaman unik namun tidak bisa diperbandingkan.
Walau keduanya terlihat berbeda di luar namun didalam mereka saling berpelukan bagaikan saudara kembar.

Memperlakukan sakit ,sembuh, senang, susah dengan senyum ibaratnya seperti memperlakukan kedua sayap kanan dan kiri secara seimbang.
Hanya dengan keseimbanganlah kita tidak terjatuh dan hanya dengan keseimbangan pula kita bisa terbang.

Mereka yang sampai di titik tersebut adalah mereka yang telah lulus dari universitas kehidupan, dan telah menyandang gelar S4 nya, yaitu :
Senang Syukur, Sakit Syukur.
Senang Senyum, Susah Senyum.
Setiap Saat Selalu Sempurna.

Please Share _/|\_ (from GV)

Komunitas Single Parent Dibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Filosofi hidup pada sebuah durian


Filosofi hidup pd sebuah durian :
1. Durian yg enak itu durian lokal artinya hidup yg enak itu hidup dimana kamu berada. Kalau kamu harus hijrah, jangan takut bahwa Tuhan mu selalu melindungi mu.
2. Kulit nya berduri dalamnya licin, artinya penampakanmu bisa sangar, bisa galak,judes, jutek tapi hatimu harus bersih. Ini juga bisa berarti tempaan hidup yg keras hendaknya membuat hati mu bersih.
3. Yg enak itu yg rasanya pahit dan manis, artinya hidup yg enak itu ga melulu manis tapi ada pahit nya supaya menambah citarasa.
4. Pada setiap buah rasanya berbeda, artinya hidupku dan hidupmu jalannya berbeda. Jangan membandingkan hidup  kita dengan orang lain, pastinya gak akan sama.
5. Buah yg enak yg bentuknya tidak bulat sempurna, artinya ya memang hidup tak pernah sempurna tapi pasti rasanya sempurna pada tiap-tiap orang yg menjalani hidupnya dan bersyukur akan kehidupan yg dijalaninya.

Buat yang tidak suka durian, jangan khawatir masih banyak buah2an lain yg bisa kau tarik filosofinya.   

Komunitas Single Parent Dibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

10 KEPRIBADIAN LUAR BIASA.

10 KEPRIBADIAN LUAR BIASA.

1. KETULUSAN

Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan

dibodohi atau dibohongi.

2. KERENDAHAN HATI

Kerendahan hati mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.

3. KESETIAAN

Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu
menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka
berkhianat.

4. POSITIVE THINKING

Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dlm situasi yg buruk sekalipun.

5. KECERIAAN

Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia punya potensi untuk menghibur dan
mendorong semangat orang lain.

6. BERTANGGUNG JAWAB

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan
sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.

7. PERCAYA DIRI

Memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain.

8. KEBESARAN JIWA

Dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan.

9. EASY GOING

Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar.

10. EMPATI

Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yg berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain

Sumber : unknown

Semoga kita semua memiliki ke 10 sifat positif tersebut diatas..ya

Selamat beraktivtas semua..

Salam
WJ
Komunitas Single Parent Dibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

TIPS AMAN NAIK ANGKOT



TIPS NAIK ANGKOT YANG AMAN UNTUK
PARA
PEREMPUAN:
1. Pas naik angkot, pegang pintunya..
Naiknya pelan -
pelan jangan sok manja pake minta
ditolongin
supirnya :p
2. Kalau supir nanya “Mau kemana
mbak?” Jangan
dijawab “Mau ke hatimu” (Bikin supir galau
ajah)
3. Walau narsis jangan sampai ngajak
supirnya foto
bareng, apalagi pake upload tu foto ke
facebook
(Tepok jidat #:-s)
4. Naik angkot gak perlu dandan cantik.
Soalnya
cuma di FTV kita bisa menemukan sopir
angkot
ganteng
5. Pas sopir mau pindahin gigi, gak usah
sok
romantis pake pegang tangan dan tatap
matanya
(hawdeh;;))
6. Kalau duduk di belakang supir gak usah
tiba - tiba
nutup matanya trus bilang “Tebak aku
siapa ?”
(Sumpah, ngga banget\=D/)
7. Kalau sampai tujuan, ucapkan “Kiri,
Pir..”. Jangan
bilang “Kiri Beib..” (Inget loh!:*)
8. Sepenuh apapun angkotnya jangan
duduk di
pangkuan supir.. Pokoknya jangan({})
9. Terakhir dan terpenting kalau terima
uang
kembalian, terima aja. Tidak usah pakai
cium tangan
__._,_.___


Komunitas Single Parent Dibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Pernahkah..?

Pernahkah kita merasa sedih dan tidak punya teman?
Merasa sendiri dan tidak punya daya apa pun untuk bertahan?

Pernahkah kita merasa bahwa hidup sudah tidak berguna dan kita yang hidup di dalamnya adalah sia-sia saja dan memalukan?

Atau kita merasa sepi dan sesak, masalah seakan tak ada habisnya dan kitalah manusia paling sial di dunia ini?

Di saat kita merasa sulit, di saat itulah Tuhan menguji ketangguhan kita sebagai hamba-Nya yang seharusnya tidak menyerah pada keadaan.

Di saat kita merasa sedih, di saat itulah Tuhan  memberi tes apakah kita bisa tetap semangat dalam menjalani hidup kita.

Dan di saat kita merasa sepi sendiri, di saat itulah Tuhan  membisikkan kepada kita bahwa kita sudah membuat jarak dengan-Nya, padahal Dia tidak akan pernah lalai dalam menemani (baca: mengawasi) kita, sehingga sebenarnya kita tidaklah sendiri, Karena Dia tidak akan pernah pergi meninggalkan kita.
^^ Insya Allah..

Salam,
WJ

Komunitas Single Parent Dibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

tahukah anda..



Wahai para wanita...tahukah anda bahwa:

(1) Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu semakin bertumpuk pula dosa-dosamu

(2) Semakin sang lelaki menghayalkanmu...semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu

(3) Janganlah anda menyangka senyumanmu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggungjawabannya kelak..!. Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari..

(4) Bayangkanlah... betapa bertumpuk dosa-dosa para artis dan penyanyi yang aurotnya diumbar di hadapan ribuan...bahkan jutaan para lelaki??

(5) Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu...maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah...

(6) Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat...dan di akhirat kelak...bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka ! Naudzubillah



Komunitas Single Parent Dibuat untuk mendukung milis indosingleparent@yahoogroups.com

Selasa, 11 Desember 2012

Jangan Menghukum Anak Saat Marah


Ini lagi...

Met baca...

Salam,
Cahyo



Jangan Menghukum Anak Saat Marah

author : Agus Surono
Thursday, 19 April 2012 - 05:05 pm

Intisari-Online.com - Hukuman hanya menjadi salah satu bagian dari pendisiplinan. Ini bagian penting karena anak-anak terkadang menolak memperbaiki perilakunya kendati sudah diberi tahu berulang kali. Orangtua membentak, berteriak, mengancam, bahkan menampar, tapi hasilnya sia-sia. Hukuman bisa mengatasi semua itu. Berbagai cara digunakan oleh orangtua untuk menghukum anak-anak mereka.

Hukuman memang suatu konsekuensi negatif. Apabila digunakan secara tepat, hukuman bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan perilaku buruk. Hanya saja, menggunakan hukuman secara benar itu sulit. Perlu konsistensi yang terus-menerus. Terlalu banyak hukuman itu tidak baik. Bisa menciptakan perasaan yang tidak menyenangkan. Ia bisa menyedot energi. Kebanyaan orangtua percaya, menghukum perilaku buruk akan menghentikan anak dalam mengulangi perbuatannya. Kadang-kadang itu benar, tapi terkadang pula salah.

  • Hukuman yang baik adalah yang jarang digunakan

    Hukuman apa pun yang digunakan terlalu sering tidak akan berjalan baik. Perilaku buruk pun takkan menjadi lebih baik. Hukuman yang sesungguhnya adalah yang jarang digunakan karena jarang dibutuhkan. Ini aturan utama dari hukuman. Hukuman harus mengurangi kebutuhan akan hukuman yang lebih banyak.

    Kalau perilaku buruk tak berubah juga, maka hukuman tersebut tidak mempan. Banyak orangtua melakukan kesalahan karena lebih memfokuskan pada hukuman ketimbang perilaku buruk. Jika Anda menghukum anak Anda lima sampai enam kali sehari untuk perilaku buruk yang sama, itu berarti sebetulnya hukuman tidak berjalan. Jika Anda terus menambah hukuman dan perilaku buruknya berlanjut, hukuman tersebut tidak efektif.

    Bukan hukumannya yang penting, tapi perilaku buruknya. Hukuman harus bisa mengubah perilaku buruk. Kalau tidak bisa, ganti dengan hukuman yang lain. Anda mungkin beranggapan bahwa membentak, mengancam, memaki, dan menampar adalah hukuman yang baik. Itu hanyalah reaksi dalam melepas kemarahan Anda. Itu bukan hukuman yang baik. Amarah dan hukuman tak dapat dicampuradukkan.

  • Jangan menghukum di saat kita marah

    Tampaknya memang tidak realistis, tapi itulah yang benar. Ketika kita memberi hukuman dalam suasana marah, sebenarnya kita melakukan dua hal pada saat yang bersamaan. Kita menghukum. Kita bereaksi dengan marah. Bagaimana jadinya kalau anak kita ternyata bermaksud membuat marah kita? Bagaimana jadinya kalau anak kita ingin impas atau membalas gara-gara persoalan yang terjadi sebelumnya? Melihat kita marah itu bukan hukuman. Itu ganjaran!

    Bila kita marah pada suatu perilaku buruk, kita mengajarkan pada anak bagaimana mengendalikan emosi. Kita memberi kekuasaan pada si anak. Terbayar sudah kemauan anak. Perilaku buruknya yang semakin diperkuat, bukan hukumannya. Alhasil, perilaku buruk pun meningkat. Efek hukuman disangkal oleh ganjaran yang berupa kemarahan kita itu. Anak-anak merasa senang dengan itu karena mereka berhasil memperoleh keinginannya.

    Satu-satunya jalan untuk mematahkan siklus pembalasan tersebut adalah tidak menjatuhkan hukuman yang disertai amarah. Kalau kita sadar akan marah, pergi saja. Hilangkan dulu amarah itu, kemudian baru hadapi perilaku buruk si anak. Jangan biarkan anak berhasil memprovokasi kita.

    Jangan menghukum ketika kita marah. Redakan dulu. Tujuan hukuman adalah mengajari anak berperilaku lebih baik di kemudian hari. Tujuannya bukan untuk impas. Kadang-kadang anak bisa membuat kita hilang kesabaran, dan saat itu bukanlah waktu untuk menjatuhkan hukuman.

    Terkadang orangtua bereaksi secara berlebihan. Apa komentar Anda terhadap seorang ibu yang tidak memberi makan putranya selama lima jam ketika dia menghilangkan sweater-nyadi sekolah. Ketika kita bereaksi berlebihan karena marah, perkataan kita bisa jadi tidak masuk akal. Kita tentu saja tidak bisa membiarkan anak kelaparan selama beberapa jam. Jadi, jangan hukum anak ketika kita sedang marah. Kalau marah, kita mengajarkan kepada anak-anak bahwa hukuman merupakan bentuk pembalasan.

    Tujuan memberi hukuman adalah mengubah perilaku buruk dan mengajarkan kepada anak untuk dapat mengambil keputusan yang lebih baik. Hukuman akan sangat efektif bila ditetapkan sebelumnya dan direncanakan. Hukuman tidak akan berjalan baik bila itu berupa reaksi impulsif. Saat marah dan menghukum, kita bertindak sebagai contoh bagi perilaku negatif. Kita tidak mengajari anak-anak untuk membuat keputusan yang lebih baik.

  • Jangan menghukum untuk mempermalukan

    Hukuman seharusnya tidak mempermalukan, menghina, atau merendahkan anak. Hukuman dimaksudkan untuk mengajarkan bahwa berperilaku buruk itu salah.

    Kalau hukuman itu sampai mempermalukan anak, di dalam dirinya akan timbul perasaan yang tidak sehat. Tindakan mempermalukan hanya akan menyebabkan si anak menilai kita jahat dan tidak adil. Dia tidak belajar tentang kerja sama. Anak mungkin akan menyerang balik dengan kemarahan. Ini bisa mengawali terjadinya siklus negatif.

    Jangan menghukum anak di hadapan anak-anak lainnya. Ajak dia menjauh. Beri tahu dia mengenai apa yang telah diperbuatnya dan nanti dia akan dihukum karenanya. Bicarakan masalah tersebut nanti, ketika kita berdua sudah sendirian.

  • Konsistenlah

    Hukuman harus dilaksanakan secara konsisten. Ketika memutuskan untuk menghukum perilaku buruk, lakukan selalu. Kalau kita menghukum hanya ketika menyukainya, hal ini justru akan menjadikan permasalahan kian memburuk. Kalau kita sudah mengatakan kepada anak bahwa dia akan dihukum, benar-benar lakukanlah.

    Kita harus menggunakan hukuman secara konsisten, meskipun kitaa dalam kondisi yang kurang menyenangkan. Jangan biarkan sedikit pun perilaku buruk terjadi. Banyak orangtua membiarkan hal tersebut terjadi pada saat-saat tertentu. Anak-anak menyukainya. Ini akan memotivasi mereka menguji kita - untuk menjajaki apakah kita akan menghukum mereka.

    Saya sering mendengar ibu-ibu mengeluh karena anak-anaknya tak mau menggubris apa yang dikatakannya. "Saya sudah mencoba semuanya. Tapi tampaknya tak berhasil." Setelah berdiskusi, alasannya menjadi jelas. Kebanyakan ibu menghukum secara tidak konsisten ketika anak-anak berperilaku buruk. Kadang-kadang mereka menghukum perilaku buruk, tapi di saat lain mereka membiarkannya karena menganggap tidak ada hasilnya. Anak-anak melanjutkan perilaku buruknya karena mereka sering berhasil melakukannya.

  • Gunakan hukuman yang mudah dilaksanakan

    Pilihlah hukuman yang dapat kita laksanakan dengan mudah. Jika hukuman itu merepotkan dan melelahkan, kita akan menjadi kurang konsisten. Jika hukuman yang merepotkan tidak juga membuat perilaku anak berubah, berpikirlah dengan hukuman lain. Butuh cara yang lebih efektif untuk melaksanakan hukuman.

  • Jelaskan hukumannya

    Beri tahu anak kita mengenai tujuan hukuman itu. Ketika kita menjelaskan hukuman, kita meningkatkan pemahaman dan kerja sama dari si anak. Jelaskan bahwa kita bukanlah musuh. Kita berusaha membantunya untuk memperbaiki perilakunya yang salah. Jelaskan pula bahwa kita tidak melakukan pembalasan. Mungkin kita akan menghadapi komentar yang menjengkelkan. Jelaskan sekali saja. Jangan terjebak dalam penjelasan dan perdebatan yang bertele-tele.

  • Lebih besar tidak selalu lebih baik

    Hukuman yang lunak biasanya lebih produktif daripada hukuman yang keras. Pertahankan segala sesuatunya dalam perspektif dan bereaksilah secara tepat terhadap besar-kecilnya perilaku buruk. Jangan menggunakan "meriam" bila hanya untuk "membunuh nyamuk". Semisal menyuruh anak menggantungkan handuk di tempatnya. Jangan larang anak menonton acara TV favoritnya selama sebulan hanya karena dia tidak menyelesaikan makannya, atau lupa menelepon kita sebagaimana yang telah kita suruh. Pilih hukuman yang sepadan dengan perbuatannya.

    Gunakan konsekuensi sesuai realitas. Anak yang membuat barang-barang berserakan, dialah yang akan membenahinya. Anak yang pulangnya terlambat tidak boleh keluar di hari berikutnya. Anak yang lebih suka menonton TV ketimbang mengerjakan PR akan berangkat sekolah tanpa mengerjakannya, dan itu menjadi tanggung jawabnya sendiri.

    Contoh-contoh tersebut menunjukkan konsekuensi yang relevan terhadap perilaku buruk. Semua itu akan bermakna bagi anak-anak Anda, dan membantu memberi mereka pelajaran.

    Ada anak-anak yang bisa dipercaya untuk memilih hukumannya. Ini membantu mereka belajar lebih cepat. Ini juga mendorong mereka untuk lebih dewasa dan bertanggung jawab.

    "Perilakumu sangat bagus sebelum peristiwa ini. Aku akan mempercayakan padamu untuk memilih sendiri hukumanmu atas perilaku buruk ini. Beri tahu aku apa yang kamu putuskan."

    Hukuman berat sering menimbulkan rasa marah atau pembalasan. Yang kecil, sederhana, dan berjangka pendek biasanya lebih efektif. Bila anak kita marah, hanya sedikit yang ia pelajari. Jika anak merasa Anda tidak adil dalam menerapkan hukuman, dia akan cenderung membalas dendam atau mendebat. Ini akan memicu siklus negatif. Kita menghukum, anak marah dan membalasnya dengan berperilaku buruk lagi, mungkin lebih buruk dari sebelumnya. Kita hukum lagi, mungkin dengan lebih keras, untuk menegaskan maksud kita. Anak menjadi semakin marah dan membalasnya dengan berperilaku buruk lagi.

  • Cara menghukum anak tanpa menghukum diri sendiri

    Kadang-kadang karena kekalutannya, orangtua melontarkan ancaman yang justru lebih merugikan dirinya ketimbang anaknya. "Kita tidak akan pergi ke restoran sebelum kamu membersihkan kamarmu. Restoran tutup pukul 23.00, sekarang sudah jam 22.30." Kalau Anda pergi ke mana pun dia tetap ingin ikut, ancaman itu manjur. Kalau dia ternyata tidak ingin ikut, Anda telah memberi kekuatan besar kepada anak Anda. Tak seorang pun pergi sebelum kamar dibersihkan. Anda memberi anak tersebut kendali atas seluruh keluarga. Siapa sebenarnya yang dihukum? Seluruh anggota keluarga, termasuk anak itu.

    Pilihlah hukuman yang berdampak pada anak kita, bukan pada Anda. Anak-anak yang lain juga bisa belajar bahwa hukuman hanya berlaku bagi yang berperilaku buruk.

    Orangtua sering bertanya bagaimana caranya melarang satu anak menonton TV. Kalau harus mematikan TV, anak-anak lain juga ikut dihukum. Itu benar. Makanya, jangan matikan TV karena satu anak dilarang. Itu menghukum semua orang. Anak yang sedang dihukum harus pergi ke ruang lain. Kalau tak seorang pun boleh menonton TV gara-gara dia tak boleh menonton, kita memberi si anak kendali atas seluruh keluarga.

  • Menggunakan larangan secara konstruktif

    Larangan berarti kehilangan satu atau lebih kesenangan untuk waktu tertentu. Larangan menjadi hukuman yang berguna bagi anak dan remaja. Kita perlu menentukan apa kesenangan itu. Beberapa contohnya adalah dilarang menonton TV, tidur awal, dilarang bertemu teman, tak boleh menggunakan telepon, tidak boleh bermain video game, dilarang bermain mainan, dan sebagainya. Pilih larangan yang mudah dilaksanakan dan berdampak pada yang dihukum, bukan yang lain.

    Melarang anak berperilaku buruk menjadi format hukuman yang populer. Sayangnya, tak banyak orangtua menggunakan larangan secara efektif. Kebanyakan orangtua menentukan periode waktu yang terlalu lama. Sebagai orang dewasa, kita lupa bahwa seminggu atau dua minggu bisa terasa selamanya bagi si anak. Periode larangan yang lama sering kali merupakan hasil dari pertengkaran, rasa sakit hati, atau amarah. Ini takkan membawa hasil yang baik, karena bisa menjadikan anak merasa dianiaya. Hal semacam itu bisa menimbulkan rasa balas dendam, dan siklus pembalasan pun dimulai.

    Dalam larangan, ada masalah yang mengikuti. Anak-anak yang dikenai larangan merasa tak punya harapan. Tanpa harapan, hanya ada peluang kecil untuk berperilaku baik. "Kenapa mesti berperilaku baik? Bagaimanapun saya tak bisa keluar selama seminggu." Lalu, si anak pun berpikiran bahwa orang-orang lain itu memang menyebalkan. Ada solusi manjur untuk persoalan tersebut.

    Periode larangan seharusnya tidak lebih dari 12 hari. Periode maksimum yang efektif biasanya 12 hari. Kalau lebih lama dari itu, risiko pembalasan akan muncul. Selanjutnya, jelaskan bahwa setiap hari baik akan mengurangi hukuman satu hari di akhir periode larangan. Misalnya, Anda menerapkan larangan selama enam hari dari Rabu sampai Senin. Kalau si anak menjadi baik pada hari Rabu, larangan pada Senin dibatalkan. Jika Kamis berjalan baik, maka Minggu dihapus. Jika Jumat berjalan baik lagi, larangan di hari Sabtu pun dibatalkan. Jumat menjadi hari terakhir larangan. Anda bisa menggunakan tabel atau kalender, sehingga anak Anda bisa mencoret hari-hari itu dan melihat perkembangannya.

    Teknik tersebut bisa berjalan sangat baik. Anak-anak bisa tahu bahwa kita tetap ingin adil meskipun hukuman itu serius. Anak-anak juga menjadi tahu bahwa kita mengharapkan perilaku yang tepat kendati dalam larangan. Dilarang atau dibatasi bukan berarti tidak kooperatif. Jadi, pendekatan ini memberi anak kita insentif yang kuat untuk segera berperilaku baik. Hanya duduk-duduk di rumah selama seminggu bukanlah hal yang mengerikan.

    Keberhasilan strategi ini tergantung seberapa bagus kita mendefinisikan hari baik. Lalu, tetap berpegang pada apa yang kita katakan. Akan sangat membantu apabila kita menulis apa yang dibutuhkan.

    • Peraturan untuk membatalkan hari larangan:
    • Melakukan yang Anda minta.
    • Berbicara dengan nada yang menyenangkan.
    • Berbaik hati dan sopan pada saudara-saudaramu.
    • Pastikan bahwa hari baik itu benar-benar hari baik. Jangan batalkan hari kalau memang tidak patut dibatalkan. Jika kita terlalu mudah membatalkan hari, kita akan mengalahkan tujuan dari pendekatan ini. Walaupun terkena larangan, anak masih bisa melakukan aktivitas lainnya.
  • Gunakan dulu umpan balik positif

    Untuk menghadapi perilaku buruk yang berulang lagi, hukuman seharusnya hanya digunakan setelah kita mencoba sejumlah upaya positif. Kebanyakan orangtua mendahulukan hukuman. Mereka percaya perilaku buruk harus ditangani dengan hukuman.

    Kita bisa memperbaiki perilaku buruk dengan menggunakan umpan balik positif untuk memperkuat lawan perilaku buruk. Dua anak kita terus bertengkar. "Kalau tidak berhenti bertengkar, kamu berdua tidak boleh ikut piknik sekolah minggu depan."

    Tunjukkan kebalikannya ketimbang hukumannya. Kebalikan bertengkar adalah bekerja sama. Gunakan dorongan semangat dan umpan balik positif ketika mereka berkeja sama dan berbagi. "Sungguh menyenangkan melihat kalian bersenang-senang. Benar-benar menggembirakan melihat kalian berdua berbagi komputer."

    Banyak orangtua terjebak untuk tergesa-gesa menerapkan hukuman. Padahal ini benar-benar tidak nyaman. Salah satu cara untuk menghindarkan diri dari jebakan itu adalah memfokuskan pada perilaku positif. (The Art of Successful Parenting)

Helping Children Correct Mistakes

Sorry,
Boso londo...
Lagi cari2 konsep ttg hukuman.
Bukan untuk menghukum. tapi lebih ke correct mistakes.



Salam,
Cahyo




BYU researchers remind parents that we are always teaching our children (Young et al.). How we respond to our children's mistakes will likely teach them how to respond to their own. What will they take from us? 
Will they punish themselves harshly? 
Will they let themselves off too easily? 
Will they be pleased if they can "get away with it"? 
Or will they realize mistakes are part of growth: correct the problem, and move on? 
Sometimes all a mistake calls for is forgiveness. Most times, allowing the child to experience the consequence and handle the mistake is also in order.

Let consequences do their work

One child is found in his room, serving a self-imposed timeout. Another child would look you straight in the eye and say he didn't do it, even if he did. 
Kids come with differing levels of tolerance for making mistakes and their own levels of wanting to correct them. 
Parents have the privilege and responsibility to discipline. "Children need clear expectations and standards provided by responsible adults to help guide and direct their lives" (Young et al. 13). 
Loving parents teach their children how to cope effectively with mistakes. This includes not removing the natural consequences that accompany them.

Mistakes as opportunities

Parenting experts Cline and Fay have a chapter in Parenting with Love and Logic titled "Children's Mistakes Are Their Opportunities" (51). 
They write, "Oftentimes we impede our kids' growth. We put ourselves exactly where we shouldn't be: in the middle of their problems. Parents who take on their kids' problems do them a great disservice" (52). 
"When a child causes a problem, the adult shows empathy through sadness and sorrow and then lovingly hands the problem and its consequences back to the child" (55). 
A parent who allows his child to correct her own mistakes will teach that child she is powerful.

Teaching, not "I told you so"

BYU researchers led by K. Richard Young suggest we treat our children with respect, and make sure our messages are "clearly and precisely explained" (12). 
This means that a child's mistake is not a moment where we get to add any insult to injury (although we may be tempted to say I told you so). Mistakes are often opportunities for teaching what a more correct choice would have been. 
Modeling is one of the best ways to teach correct behavior. This works especially well with younger children (Young et al. 12). If you have a child who is pushy on the playground, model how he could deal with his emotions in a positive way. Let him role play correct behavior with you. 
With older children and their mistakes, they may use you as a sounding board, but typically need to figure out solutions on their own.

Facebook